Muhammad Maula Ad-Dawilah Bin Ali Maula Ad Dark, 12851365 (umur 80 tahun)

muhammad Maula.jpeg
Name
Muhammad Maula Ad-Dawilah /Bin Ali Maula Ad Dark/
Type of name
birth name
Given names
Muhammad Maula Ad-Dawilah
Surname prefix
Bin
Surname
Ali Maula Ad Dark
Birth
1285 (684)
Birth of a son
Description
Sejarah Hidup
Note: Imam Muhammad Maula Ad-Dawilayh, seorang ulama besar yang hafidz ( hafal Al-Qur'an ) lahir pada tahun 705 H / sekitar tahun 1285 M di Tarim Al-Ghonna. Sejak kecil beliau sudah yatim, kemudian diasuh dan dibesarkan oleh pamannya Sayyid Abdullah. Selama diasuh oleh sang paman itulah Sayyid Muhammad mendapat pendidikan agama secara intensif, itulah sebabnya dalam usia remaja beliau sudah menguasai ilmu agama cukup tinggi dan akhlaq yang mulia. Seperti halnya para ulama dan awliya asal Hadramaut, beliau juga suka berkelana ke berbagai negeri untuk beribadah dan menimba ilmu.

Imam Muhammad Maula Ad-Dawilayh, seorang ulama besar yang hafidz ( hafal Al-Qur'an ) lahir pada tahun 705 H / sekitar tahun 1285 M di Tarim Al-Ghonna. Sejak kecil beliau sudah yatim, kemudian diasuh dan dibesarkan oleh pamannya Sayyid Abdullah. Selama diasuh oleh sang paman itulah Sayyid Muhammad mendapat pendidikan agama secara intensif, itulah sebabnya dalam usia remaja beliau sudah menguasai ilmu agama cukup tinggi dan akhlaq yang mulia. Seperti halnya para ulama dan awliya asal Hadramaut, beliau juga suka berkelana ke berbagai negeri untuk beribadah dan menimba ilmu.
Ketika menunaikan ibadah haji, misalnya Sayyid Muhammad bermukim di Madinah untuk belajar ilmu fiqih. Bukan hanya itu, setiap kali mempelajari ilmu syari'at, beliau selalu mengamalkannya. Maka wajarlah jika di masa tuanya, beliau mendapat kemuliaan dari Allah swt, sebagaimana para ulama besar lainnya.
Memang, beliau adalah ulama yang tawadhu' dan banyak melatih diri dengan berbagai jenis ibadah serta amal kebajikan. Beberapa amalan yang beliau lakukan kebanyakan berhubungan dengan hati, sehingga sangat berpengaruh pada akhlaqnya. Begitu tawadhu'nya, sehingga beliau selalu menyembunyikan amal ibadahnya dari pandangan orang lain, bahkan juga dari anggota keluarganya sendiri.
Misalnya, Syekh Muhammad suka mengasingkan diri di padang pasir atau dusun yang tak berpenghuni, karena riyadhah atau tirakat yang luar biasa itulah, beliau banyak mendapatkan karamah dari Allah swt. Belakangan beliau memilih sebuah tempat terpencil untuk berkhalwat di Yabhur, dekat makam Nabi Hud, terutama karena disana terdapat sebuah telaga yang airnya sangat jernih. Disanalah pula beliau membangun sebuah rumah kecil untuk tempat tinggalnya. Karenanya beliau termasyhur dengan gelar "Maula Ad-Dawilayh" dan " Shohib Yabhur".

Tak lama kemudian beberapa pengikutnya datang ikut menghuni kawasan disekitarnya, sehingga lambat laun berkembang menjadi ramai. Pemukiman yang semula hanya terdiri dari beberapa keluarga kecil itu makin lama berkembang menjadi sebuah desa yang maju, dan dikenal sebagai Yabhur Ad-Dawilayh. Ad-Dawilayh sendiri dalam bahasa arab Hadramaut berarti sama dengan Al-'Atiqah ( Merdeka ).
Bagi orang awam, Imam Muhammad Maula Dawilah dikenal sebagai wali yang suka berprilaku aneh. Sesekali beliau mengenakan pakaian compang camping. Adakalanya beliau mendekati penguasa, di lain waktu beliau menjauh dari kaum birokrat dan mendekati rakyat kecil yang tak mampu.
Kelebihannya, beliau sering menjalani hidup dengan berbagai amal ibadah dan kebajikan. Di antaranya bangun di tengah malam untuk shalat Tahajud dan senantiasa berpuasa. Konon Sayyid Muhammad hamper selalu melakukan shalat shubuh dengan Wudhu sejak waktu isya, kebiasaan yang berjalan selama 20 tahun. Beliau juga membiasakan berpuasa selama 40 hari berturut-turut di musim panas.
Mengenai karamah dan kedekatannya dengan Allah swt, beliau pernah mengungkapkan sebuah kiasan yang sangat indah :
"Aku biasa menyebut Allah swt dengan lisan dan hati. Kemudian, bentuk-bentu huruf yang terucap dengan lisan itu lenyap, dan yang tersisa hanyalah cahaya yang memancar di dalam hati hingga sampai ke hadirat Allah swt."
Bukan hanya dikenal sebagai ulama, beliau juga seorang penyair yang sangat piawai merangkai kata. Beliau sering menyampaikan nasihat dalam bahasa yang indah. Misalnya :
"Sesungguhnya aku tidak takut miskin, sebab yakin bahwa karunia Allah lebih dekat dari yang di tanganku. Sesungguhnya aku tidak membenci kematian, sebab yang membenci kematian berarti membenci bertemu dengan Allah swt. Aku tidak pernah membenci tamu, meskipun tidak memiliki sesuatu yang dapat aku hidangkan."
Suatu hari ketika Imam Muhammad Mawla Dawilayh hendak tampil sebagai imam shalat di masjid Ba' Alawi, beberapa orang mencegahnya salah seorang di antara mereka berkata; "Engkau seorang Arab dusun, tidak pantas menjadi imam!"
Usai mengimami shalat, dengan tenang dan santun beliau menguraikan sebuah surah Al-Qur'an dengan cara yang sangat mempesona. Hal itu membuat para Jamaah sadar bahwa beliau memang ulama yang berilmu.

Death
1365 (766) (umur 80 tahun)
Family with parents
father
mother
himself
Family with Hababah Aisyah Binti Abu Bakar Al-Wara
himself
partner
son
son
son
daughter
Family with Hababah Zainab Binti Hasan At-Turobi
himself
partner
Description

Imam Muhammad Maula Ad-Dawilayh, seorang ulama besar yang hafidz ( hafal Al-Qur'an ) lahir pada tahun 705 H / sekitar tahun 1285 M di Tarim Al-Ghonna. Sejak kecil beliau sudah yatim, kemudian diasuh dan dibesarkan oleh pamannya Sayyid Abdullah. Selama diasuh oleh sang paman itulah Sayyid Muhammad mendapat pendidikan agama secara intensif, itulah sebabnya dalam usia remaja beliau sudah menguasai ilmu agama cukup tinggi dan akhlaq yang mulia. Seperti halnya para ulama dan awliya asal Hadramaut, beliau juga suka berkelana ke berbagai negeri untuk beribadah dan menimba ilmu.
Ketika menunaikan ibadah haji, misalnya Sayyid Muhammad bermukim di Madinah untuk belajar ilmu fiqih. Bukan hanya itu, setiap kali mempelajari ilmu syari'at, beliau selalu mengamalkannya. Maka wajarlah jika di masa tuanya, beliau mendapat kemuliaan dari Allah swt, sebagaimana para ulama besar lainnya.
Memang, beliau adalah ulama yang tawadhu' dan banyak melatih diri dengan berbagai jenis ibadah serta amal kebajikan. Beberapa amalan yang beliau lakukan kebanyakan berhubungan dengan hati, sehingga sangat berpengaruh pada akhlaqnya. Begitu tawadhu'nya, sehingga beliau selalu menyembunyikan amal ibadahnya dari pandangan orang lain, bahkan juga dari anggota keluarganya sendiri.
Misalnya, Syekh Muhammad suka mengasingkan diri di padang pasir atau dusun yang tak berpenghuni, karena riyadhah atau tirakat yang luar biasa itulah, beliau banyak mendapatkan karamah dari Allah swt. Belakangan beliau memilih sebuah tempat terpencil untuk berkhalwat di Yabhur, dekat makam Nabi Hud, terutama karena disana terdapat sebuah telaga yang airnya sangat jernih. Disanalah pula beliau membangun sebuah rumah kecil untuk tempat tinggalnya. Karenanya beliau termasyhur dengan gelar "Maula Ad-Dawilayh" dan " Shohib Yabhur".

Tak lama kemudian beberapa pengikutnya datang ikut menghuni kawasan disekitarnya, sehingga lambat laun berkembang menjadi ramai. Pemukiman yang semula hanya terdiri dari beberapa keluarga kecil itu makin lama berkembang menjadi sebuah desa yang maju, dan dikenal sebagai Yabhur Ad-Dawilayh. Ad-Dawilayh sendiri dalam bahasa arab Hadramaut berarti sama dengan Al-'Atiqah ( Merdeka ).
Bagi orang awam, Imam Muhammad Maula Dawilah dikenal sebagai wali yang suka berprilaku aneh. Sesekali beliau mengenakan pakaian compang camping. Adakalanya beliau mendekati penguasa, di lain waktu beliau menjauh dari kaum birokrat dan mendekati rakyat kecil yang tak mampu.
Kelebihannya, beliau sering menjalani hidup dengan berbagai amal ibadah dan kebajikan. Di antaranya bangun di tengah malam untuk shalat Tahajud dan senantiasa berpuasa. Konon Sayyid Muhammad hamper selalu melakukan shalat shubuh dengan Wudhu sejak waktu isya, kebiasaan yang berjalan selama 20 tahun. Beliau juga membiasakan berpuasa selama 40 hari berturut-turut di musim panas.
Mengenai karamah dan kedekatannya dengan Allah swt, beliau pernah mengungkapkan sebuah kiasan yang sangat indah :
"Aku biasa menyebut Allah swt dengan lisan dan hati. Kemudian, bentuk-bentu huruf yang terucap dengan lisan itu lenyap, dan yang tersisa hanyalah cahaya yang memancar di dalam hati hingga sampai ke hadirat Allah swt."
Bukan hanya dikenal sebagai ulama, beliau juga seorang penyair yang sangat piawai merangkai kata. Beliau sering menyampaikan nasihat dalam bahasa yang indah. Misalnya :
"Sesungguhnya aku tidak takut miskin, sebab yakin bahwa karunia Allah lebih dekat dari yang di tanganku. Sesungguhnya aku tidak membenci kematian, sebab yang membenci kematian berarti membenci bertemu dengan Allah swt. Aku tidak pernah membenci tamu, meskipun tidak memiliki sesuatu yang dapat aku hidangkan."
Suatu hari ketika Imam Muhammad Mawla Dawilayh hendak tampil sebagai imam shalat di masjid Ba' Alawi, beberapa orang mencegahnya salah seorang di antara mereka berkata; "Engkau seorang Arab dusun, tidak pantas menjadi imam!"
Usai mengimami shalat, dengan tenang dan santun beliau menguraikan sebuah surah Al-Qur'an dengan cara yang sangat mempesona. Hal itu membuat para Jamaah sadar bahwa beliau memang ulama yang berilmu.

Media object
muhammad Maula.jpeg
muhammad Maula.jpeg